Hujan

Air terkondensasi ketika menyentuh atmosfer yang hangat. Kedatangannya selalu membawa sejuta ekspektasi. Keluhan commuters saling menyahut di halte depan. Orkestra tak bermelodi setengah hati itu setengah mati menunggu kedatangan bis bekasi. Ketukan bertempo cepat mengalun bersama bunyi tumpahan air. Hak 5cm, 7cm berlarian mempertegas alunan di atas beton bertulang. Lantai besi jembatan busway yang bautnya telah lepas tak kalah menimpali bunyi malam. Kaki-kaki pejuang gedung pencakar langit yang tidak sabar untuk sampai di rumah. Thanks God it’s Friday!

Turunnya molekul hidrogen yang bersenyawa dengan oksigen itu semakin tak terbendung. Penuh keanggunan ia hadir untuk menyegarkan malam. Namun, ia jengah dengan keluh yang terus tersampaikan ke langit. Ia turun lebih hebat. Hanya ingin memadamkan keluh itu. Kenapa kalian tak mensyukuri kehadiranku, pikirnya tak habis-habis. Tangan-tangan mulai sibuk mencari. Payung! ‘ah, sial aku lupa bawa payung!’. ‘aduuuuh, kenapa turunnya sekarang sih, tunggu sampe rumah dong!’. ‘tau gini mending ikut ajakan nina pulang lebih cepat tadi, huh!’.’macet deh, macet deh, sampe rumah jam berapa nih, haduuuuuh, bis-nya lama amat!!’.

Jendelaku buram karena lelehan hujan. Tapi, hei lihat… ada warna-warni terkembang. Lingkaran yang lebar. Meski malam. Meski buram. Terlihat jelas dari lantai 3 ini. Berkat lampu mall seberang. Hijau. Biru. Bunga putih. Pink. Biru lagi. 6, …, 10. Pelangi. Bunga lagi. Kuning. Biru. Wah, banyak sekali. Aku tersenyum. Ojek payung! Indah. Dari atas sini. Bunga mekar di malam hari. Kadang bersama di satu titik. Bergerak cepat ke satu sisi. Lalu menyebar. Indah. Subhanallah. Spektakuler. Tak lama, panggilan shalat datang. Dalam sujud kubisikkan : Alloh, terima kasih.

Tetes hujan terakhir meleleh di jendelaku. Cahaya lampu jalan, tadi terlihat buram kini mulai terfokus. Warna sunset. Hangat . Aku tersenyum. Subhanallah. 19.47, kata penunjuk waktu digital di pergelangan tanganku. Saatnya pulang. Aku tak perlu merapikan berkas. Tak juga mematikan komputer. Karena sedari 18.03 semua telah di tempatnya. Saat aku hendak beranjak, hujan turun. Tetes pertamanya membentuk lukisan indah. Kuputuskan menikmati opera hujan malam ini dari balik jendela. Aku tidak bawa payung. Tapi aku tersenyum.



Baru (saja)

Kepinginnya sih dapet di Bandung. Setelah setahun lebih berkehidupan di Jakarta, ternyata lebih enakan di Kota Kembang kemana-mana. Udaranya, hectic-nya, transportasinya, orang-orang-nya, and so on. Tapi apa mau di kata namanya juga abdi negara, ya harus nrimo ditempatkan dimana saja :) . Alhamdulillahnya masih di pulau Jawa and finally i’m back to those megapolitan wannabe city. Perjuangan baru di tahun yang baru!

Meski belum bisa ikhlas 100%, tapi ini semua memang harus dijalani. Yah, masing-masing kita pasti punya mimpi dan untuk mencapai itu butuh pengorbanan. Begitu kan cara kerjanya. Tapi, masalahnya sekarang adalah tentang menstabilkan hati yang sebelumnya telah terbolak-balik, hehehe. Gampang-gampang susah ya ternyata menuju ikhlas.

Ter-takstabilkan-nya hati paling rentan terjadi ketika semua masih dalam kondisi 50-50. Ketika keputusan belum final. Tapi,  namanya manusia kecenderungan hatinya terisap pada apa-apa yang diinginkan. Alhasil dengan berjalannya waktu, hatinya telah menyusun indahnya kehidupan kelak ketika persimpangan itu membelokkannya pada apa-apa yang diinginkan. Betapa kuatnya rajutan milestone sesuai keinginan hati itu, apalagi jika ditambahkan bumbu-bumbu merahjambu makanan.

Walhasil, hati akan menjadi kacau balau ketika di akhir penantian jawaban yang diterima bukan seperti yang diinginkan. Milestone yang telah disusun rapi, perlahan mulai berantakan, terbang kesana kemari. Rajutan mimpi mulai kusut seperti benang wol yang dikucel-kucel adek bayi. Huaaaaaa, mau menangis dan berteriak sekencang-kencangnya… Jika tidak ada kaitannya dengan hati mungkin tidak akan separah ini. Tapi, apa boleh dikata. Setiap manusia memiliki kecenderungan pada keinginan otaknya.

Just take a deep breath… release it.

Siapa tahu dibalik semua ini ada kado terindah yang disiapkan. Jadi meskipun sulit, berusahalah untuk kembali menata hati, menata mimpi. Karena Sang Penggenggam Jiwa tahu dengan pasti apa-apa yang kita butuhkan, Dia tidak selalu memberikan yang kita inginkan. Jalani hari baru dengan hati baru !

Jakartaku, Jakartamu ?

Someday we will know why the skies are blue

Ya. Jawaban atas segala hal yang tidak dimengerti sekarang pasti akan datang. Suatu saat nanti. Seperti janji Allah bahwa di akhir masa, kebenaran akan terungkap.

Hebat benar Jakarta, di usianya yang sudah sepuh, geliat kehidupannya seakan tak pernah mati. Daya dukung kota kepada warganya sungguh luar biasa. Seakan terus dapat menerima. Padahal sebenarnya tidak demikian.

Kondisi lingkungan terus menurun setiap tahun. Berdasarkan foto yang diambil pada tahun ’76,’89, dan ’04 oleh satelit NASA bernama Terra dapat dilihat bahwa ruang vegetasi (warna merah) semakin drastis berkurang. Paralel dengan itu wilayah terbangun (warna hijau) terus meningkat. Sehingga akibat kerusakan lingkungan tak terelakan dari keseharian warga kota.

Kenyataan ini menunjukkan semakin banyak jumlah manusia di ibukota. Menganalisis dari http://indonesiaurbanstudies.blogspot.com/2007/03/growth-of-jakarta-and-suburbanization.html, disebutkan bahwa pertumbuhan penduduk kota Jakarta menurun pada tahun 1997. Namun, meningkat kembali pada 2005 seiring dengan maraknya pembangunan apartemen sebagai tempat tinggal di tengah kota.

Selain itu fakta lain yang disebutkan adalah bahwa pertumbuhan di wilayah peripheral Jakarta yaitu BODETABEK justru lebih tinggi. Bagi sebagian besar pekerja di Jakarta, tempat tinggal yang paling nyaman (dan murah) adalah kawasan ini. Mungkin juga karena kawasan tinggal di daerah Jakarta yang layak untuk ditinggali tersisa sedikit dan harganya melambung.

Semua ini adalah efek dari urbanisasi. Motif di baliknya selalu sama : keluar dari kemiskinan. Rural selalu diprioritaskan akhir untuk pembangunan. Hal ini memaksa orang untuk keluar dan lari ke daerah pesat pembangunan dimana uang mengalir dengan cepat. Hakikat manusia memang seperti itu. Jadi tidak bisa disalahkan. Tapi jika didiamkan, sampai berapa lama lagi Jakarta dan kawasan BoDeTaBek akan bertahan? Saat itu terjadi, bencana apa yang datang?

Someday we will know…

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 353 pengikut lainnya.