Kimchi!
10 Feb 2012 Tinggalkan sebuah Komentar
Negara semenanjung kecil ini hanya terpaut 2hari lebih tua dari kemerdekaan negara zamrud khatulistiwa. Tapi sekarang lihat perbedaan antara kedua negara ini. Satu hal yang paling membuat miris adalah fakta bahwa korea menggunakan pesawat buatan nurtanio (sekarang PT. DI) sebagai pesawat kepresidenan. Di saat yang sama, pemimpin negara ini malah memilih buatan boeing. Dengan otak awam saya : it doesn’t make any sense.
Selain itu, korea wave membuat perhatian saya tidak bisa lepas. Bahkan saya sempat mengejar konser super junior di negeri jiran. Tak kurang, saya mulai mengkoleksi digital copy dari berbagai reality show korea, yang sudah meng-asia yaitu Running Man. Kenapa begitu banyak orang terserang virus korea? Terlepas dari kesempurnaan fisik artis K-pop dan K-drama. Tentang kesempurnaan fisik ini akan saya bahas di bagian berikutnya.
Korea hanyalah sebuah negara kecil yang terpecah dengan saudaranya, Korea Utara. Jauh sebelumnya semenanjung korea dan sebagian china berdiri dalam satu kerajaan, Shila. Cerita sejarah ini dipopuliskan dalam drama historis mereka yang terkenal, Queen Seon Deok. Keberhasilan penyebaran virus ini, tak pelak merupakan efek dari kebudayaan mereka. Kebudayaan yang bersinergi kuat dengan kemajuan teknologi.
Kemajuan negara ini, disokong oleh keberadaan kerajaan-kerajaan bisnis yang kuat. Namun, pada tahun 1945, tahun kemerdekaan negara ini fokus pembangunan benar-benar dipegang. Tahun awal berdirinya negara ini merupakan masa tertatih-tatih. Bahkan organisasi dunia mengklaim bahwa negara ini tidak akan maju 50tahun ke depan. Tapi yang terjadi sebaliknya.
Fokus awal pembangunan digerakan di sektor pertanian. Hampir seluruh wilayah korea yang di daerah aliran sungai dijadikan sentra pertanian. Selama 2-3dekade, ketika telah mengalami swasembada, sektor industri mulai digenjot. Namun, tanpa melupakan pertanian. Industri terus berkembang dan sinergi riset ilmu pengetahuan kuat terjalin. Sokongan dana dari pertanian terus mengalir. Ketiga pilar ini berhasil mematahkan ramalan organisasi dunia, setengah abad yang lalu. Sekarang, siapa yang tidak kenal kimchi? Makanan yang dinyatakan tersehat di dunia.
Itulah yang membuat saya mengagumi negara kimchi ini. Sampai-sampai salah satu mimpi saya adalah menjejakan kaki di tanah semenanjung korea. All praises to Allah, impian saya terwujud. Tapi fakta di lapangan ternyata tak seindah bayangan. Kenapa? Postingan selanjutnya akan menjawab pertanyaan ini.
Hujan
22 Feb 2010 Tinggalkan sebuah Komentar
in hijaubiru Tag:cerita, jakarta
Air terkondensasi ketika menyentuh atmosfer yang hangat. Kedatangannya selalu membawa sejuta ekspektasi. Keluhan commuters saling menyahut di halte depan. Orkestra tak bermelodi setengah hati itu setengah mati menunggu kedatangan bis bekasi. Ketukan bertempo cepat mengalun bersama bunyi tumpahan air. Hak 5cm, 7cm berlarian mempertegas alunan di atas beton bertulang. Lantai besi jembatan busway yang bautnya telah lepas tak kalah menimpali bunyi malam. Kaki-kaki pejuang gedung pencakar langit yang tidak sabar untuk sampai di rumah. Thanks God it’s Friday!
Turunnya molekul hidrogen yang bersenyawa dengan oksigen itu semakin tak terbendung. Penuh keanggunan ia hadir untuk menyegarkan malam. Namun, ia jengah dengan keluh yang terus tersampaikan ke langit. Ia turun lebih hebat. Hanya ingin memadamkan keluh itu. Kenapa kalian tak mensyukuri kehadiranku, pikirnya tak habis-habis. Tangan-tangan mulai sibuk mencari. Payung! ‘ah, sial aku lupa bawa payung!’. ‘aduuuuh, kenapa turunnya sekarang sih, tunggu sampe rumah dong!’. ‘tau gini mending ikut ajakan nina pulang lebih cepat tadi, huh!’.’macet deh, macet deh, sampe rumah jam berapa nih, haduuuuuh, bis-nya lama amat!!’.
Jendelaku buram karena lelehan hujan. Tapi, hei lihat… ada warna-warni terkembang. Lingkaran yang lebar. Meski malam. Meski buram. Terlihat jelas dari lantai 3 ini. Berkat lampu mall seberang. Hijau. Biru. Bunga putih. Pink. Biru lagi. 6, …, 10. Pelangi. Bunga lagi. Kuning. Biru. Wah, banyak sekali. Aku tersenyum. Ojek payung! Indah. Dari atas sini. Bunga mekar di malam hari. Kadang bersama di satu titik. Bergerak cepat ke satu sisi. Lalu menyebar. Indah. Subhanallah. Spektakuler. Tak lama, panggilan shalat datang. Dalam sujud kubisikkan : Alloh, terima kasih.
Tetes hujan terakhir meleleh di jendelaku. Cahaya lampu jalan, tadi terlihat buram kini mulai terfokus. Warna sunset. Hangat . Aku tersenyum. Subhanallah. 19.47, kata penunjuk waktu digital di pergelangan tanganku. Saatnya pulang. Aku tak perlu merapikan berkas. Tak juga mematikan komputer. Karena sedari 18.03 semua telah di tempatnya. Saat aku hendak beranjak, hujan turun. Tetes pertamanya membentuk lukisan indah. Kuputuskan menikmati opera hujan malam ini dari balik jendela. Aku tidak bawa payung. Tapi aku tersenyum.
Menyentuh Pelangi
25 Jun 2009 2 Komentar

Alkisah seorang tuna netra bernama Kusnadi, yang berprofesi sebagai tukang pijat. Cerita ini dikisahkan oleh seorang trainer yang menjadi langganan Mas Kus ini ketika mahasiswa dulu. Saat itu Mas Kus berusia 27 tahun. Singkat cerita, pada suatu kesempatan si trainer ini bertanya-tanya tentang kehidupan sang tukang pijat langganannya itu. Berpenghasilan seadanya dan tinggal mengontrak di sebuah tempat kos. Si trainer ini bertanya mengapa tidak tinggal saja di mess karena sewa kamar-nya jauh lebih murah. Kemudian Mas Kus menjawab, bahwa ia ingin membantu adik-adiknya (sesama tukang pijat-tuna netra) dengan memberikan kamar mess itu.
Tak habis pikir, si trainer ini bertanya kembali, kenapa ia berlaku begitu. Mas Kus mejawab bahwa kini ia sudah berpenghasilan dan karena itu ia harus belajar mandiri. Si trainer ini bertanya kembali, apakah penghasilannya cukup dan masih tersisakah uang untuk ditabung. Mas Kus kembali menjawab, dengan tenang, bahwa penghidupannya masih mencukupi dan masih bisa menabung, walaupun hanya beberapa perak.
Kembali penuh keheranan, si trainer bertanya, untuk apa uang tabungannya kelak. Mas Kus mengungkapkan kisahnya, bahwa ia terlahir buta dan merasa sebagai orang paling naas di dunia. Tidak pernah melihat indahnya mentari pagi, warna-warni bunga, dll. Namun, ketika orang tua-nya memasukkan ia ke panti, ia sadar bahwa dirinya tidak se-naas itu. Ada banyak orang yang mengalami nasib serupa.
Sejak saat itu, ia bertekad untuk bisa memberikan kebahagiaan untuk orang lain, meski dengan keterbatasannya. Ia tidak ingin terkungkung dalam perasaan itu. Oleh karena itu, tabungannya kelak akan dibelikan gitar agar dengannya ia dapat membahagiakan orang dengan nyanyian. Si trainer mendengar dengan seksama dan mulai dihinggapi perasaan aneh. Sederhana, menyentuh, dan dalam.
Setelah beberapa hari, si trainer berkunjung ke rumah Mas Kus dan membawakan gitar miliknya. Ia kemudian menyodorkan gitar itu dan Mas Kus mulai memainkan beberapa lagu. Ada pemandangan yang indah di situ, raut wajah Mas Kus menyiratkan kebahagiaan yang tidak terucap. Si trainer mengatakan kepada Mas Kus bahwa ia dengan tulus-ikhlas ingin meminjamkan gitar itu sampai Mas Kus memiliki gitar sendiri.
Namun, seperti yang telah diduga sebelumnya, Mas Kus memasukkan gitar ke sarungnya dan mengembalikan kepada si trainer. Sekali lagi si trainer mengatakan bahwa ia tulus-ikhlas dengan semua ini. Apa jawaban Mas Kus? Katanya, ’izinkan saya membahagiakan adik-adik saya dengan keringat saya sendiri’… Perasaan itu hinggap lagi, sederhana, menyentuh, dan semakin dalam.
Ada lagi kisah yang lain, kalau sudah pernah nonton film-nya pasti tahu kisah ini. Kisah seorang anak perempuan 15 tahun, Ikeuchi Aya yang divonis mengidap penyakit langka yang menyerang otak (lupa namanya^_^) dan menyebabkan kematian secara perlahan. Yup, 1 litre of tears. Diawali dengan kematian fisik akibat rusaknya koordinasi dengan otak secara bertahap hingga kematian sebenarnya.
Tapi, apa yang telah dipilih Aya adalah sesuatu yang luar biasa. Melalui Aya No Niki (buku harian Aya) yang diterbitkan, ia telah menjadi inspring to stay alive bagi banyak orang, terutama orang yang bernasib serupa. Hingga akhir hayatnya ia tetap menjadi pribadi yang bersemangat dan setelah kepergiannya ia tetap hidup di hati banyak orang. Jadi teringat, keinginannya di akhir buku harian: live on, forever…
Pastinya masih banyak kisah lainnya tentang kesejatian manusia di sekitar kita. Tentang makhluk bernama manusia yang ditakdirkan dengan keterbatasan, namun hendak atau bahkan telah berhasil menyentuh pelangi dan menjadi sebuah kemanfaatan bagi manusia lainnya. Kisah yang terkadang sederhana, bisa jadi menyentuh, namun yang pasti sangat dalam makna-nya.
Fragmen-fragmen kehidupan ini bisa jadi merupakan salah satu bentuk tarbiyyah (pengkaderan) langsung dari Allah kepada kita, jika dan hanya jika kita mau melihat, berpikir, dan merasakan sekitar. Alhamdulillah, atas kesempurnaan fisik penciptaan kita. Namun, kini pertanyaannya adalah sudah sampai tangga mana kita hendak menyentuh pelangi?
*alhamdulillah senang, ternyata tulisan ini dibukukan oleh Oase Iman Eramuslim =)

Sharing dong…